BANJANG TANCEP, SARANA MENANGKAP IKAN WARISAN MASA LALU YANG MULAI DITINGGALKAN

  • Nov 12, 2023
  • ABDUL WAHAB

SeputarTambaan, Banjang tancep merupakan sarana bagi nelayan warga masyarakat Tamba'an mendapatkan ikan, dahulu sebelum nelayan di Tamba'an mengenal banyak metode dalam mencari ikan, mereka hanya tahu cara memancing, mayang dan menggunakan banjang tancep ini.

Banjang tancep adalah bangunan persegi empat terbuat dari pilar-pilar bambu yang berdiri saling mengaitkan di setiap sisi bangunan, berukuran 7x7 meter sampai 10x10 meter, di atas banjang terdapat gubuk kecil tempat nelayan beristirahat menunggu waktu yang tepat mengambil ikan, ada juga alat menderek tali yang disebut Kotek (kotek = berbunyi, karena pada waktu alat ini digunakan menimbulkan suara yang berisik) untuk menaikkan jaring persegi yang ditenggelamkan di bawah banjang, tinggi banjang ini bervariasi tergantung dalamnya dasar laut, menggunakan 1 bambu utuh atau bambu yang disambung, ada yang setinggi 25 meter hingga 50 meter, untuk mendapatkan bangunan banjang setinggi itu nelayan menggunakan bambu jenis petung yang terkenal tinggi dan besar, mereka membuat lobang-lobang pada beberapa bambu untuk menjadikannya tiang, bambu yang berlobang akan terisi air dan bisa tenggelam/tidak mengapung, untuk meneguhkan pilar-pilar bambu itu nelayan harus menenggelamkan batu kali, menyelam dan menata batu-batu tersebut, fungsi batu kali itu agar banjang tidak goyah diterpa ombak dan disapu angin kencang di laut, keberadaan batu-batu kali besar tersebut selain sebagai peneguh banjang, juga sebagai tempat ikan-ikan bersembunyi dan mencari makan, batu-batu tersebut untuk memancing ikan-ikan datang ke dasar banjang selanjutnya terperangkap dalam jaring banjang.

Keberadaan banjang tancep ini juga menjadi daya tarik wisatawan saat perahuan, mereka naik ke atas untuk melihat langsung bangunan yang dipakai nelayan untuk mendapatkan ikan tersebut, beberapa kali juga banjang digunakan untuk tempat pemuda atau Karang Taruna Bina Hangtuah Kelurahan Tamba'an melakukan upacara bendera Dokumentasi Upacara Kartar pada saat 17 Agustus, tentu saja mereka memperkenalkan banjang sebagai salah satu destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi.

Dahulu, dapat dipastikan bahwa orang yang memiliki banjang tancep ini bisa dibilang kalau dia adalah orang kaya, karena waktu itu untuk membangun banjang tancep ini membutuhkan biaya yang sangat mahal, hampir menyamai dengan membangun rumah di daratan, biaya bahannya bisa dibilang tidak murah keberadaan bambu petung sejumlah minimal 25 batang, jika harus disambung harus dikalikan 2, lalu ongkos mulai dari biaya penyelam, mengangkut bahan-bahan materialnya serta kebutuhan perahu dan tenaga untuk menjaga banjang serta perawatannya begitu besar, belum lagi ketika musim angin pada pertengahan tahun, banyak perawatan akibat banjang yang rusak dan bisa jadi roboh sepenuhnya akibat cuaca yang ekstrim, namun pengeluaran tersebut dapat tergantikan dengan pengasilan dari banjang tersebut, lautan Pasuruan dahulu terkenal begitu kaya akan hasil lautnya.

Di Tamba'an sendiri dulunya memiliki 2 pasar, yakni pasar ikan (sempat dinamakan nama jalan, sekarang jalan Halmahera) adalah pasar bagi para tengkulak dari luar daerah bahkan ada yang dari Jakarta, dan ada pula yang dari Jepang untuk membeli hasil tangkapan warga Tamba'an di pasar ikan ini. Selanjutnya ada pasar pinggir laut tempat transaksi pedagang kecil lokal membeli tangkapan nelayan langsung, pedagang kecil tersebut selanjutnya setor kepada pedagang besar di pasar ikan. Bahkan sebelum ikan naik pun ada yang mau membeli hasil tangkapan nelayan tersebut, mereka dinamakan Lijo Ngoyor yaitu ibu-ibu yang datang menghampiri nelayan yang baru saja pulang melaut sebelum naik ke daratan dengan cara ngoyor (berjalan di laut ketika laut masih belum surut), ada juga anak-anak mencari ikan dengan ngujur yakni dengan membawa nampan dan sejenisnya, berharap untuk mendapat sedekah ikan atau tangkapan laut lainnya dari para "manol" (kuli angkut hasil tangkapan).

Kini Banjang Tancep sudah banyak ditinggalkan oleh nelayan pesisir Pasuruan, kondisi sekarang yang tidak memungkinkan, ikan sudah jarang bisa ditangkap dengan banjang, ekosistem laut mulai rusak akibat eksplorasi hasil laut besar-besaran beberapa waktu yang lalu, masyarakat nelayan menggunakan dinamit untuk menangkap ikan, berharap mendapatkan hasil yang berlebih tentunya, cara menggunakan dinamit untuk menangkap ikan pertama kali dikenalkan oleh nelayan dari daerah lain kemudian ditiru oleh nelayan lokal, lambat laun modifikasi penggunaan dinamit dalam menangkap ikan berganti menjadi bondet, yang lebih praktis dan efisien dari pada dinamit. Akibat dari penggunaan bahan peledak tersebut, kini ikan dan hewan laut yang biasa ditangkap nelayan sudah berkurang di wilayah perairan Pasuruan, serta cara kuno menggunakan banjang sudah mulai ditinggalkan oleh para nelayan Pasuruan.

Namun pengawasan yang ketat oleh Polairud Pelabuhan Pasuruan, penggunaan bahan peledak dan alat-alat yang merusak ekosistem laut sudah tidak lagi dipakai oleh nelayan Tamba'an. 

Masyarakat kelurahan Tamba'an berharap, kedepannya keberadaan banjang tanjep ini mampu dioptimalkan oleh pemerintah kota Pasuruan sebagai obyek wisata bahari. (Chas)

 

Sumber berita

( https://arekarektambaan.blogspot.com/2019/02/banjang-tancep-merupakansarana-bagi.html?m=1 )

( https://www.facebook.com/202228473167741/posts/2148322315225004/ )