MENINGGALKAN KOTA PASURUAN, BIKSU THUDONG MELANJUTKAN MEMBAWA PESAN DAMAI MENUJU SIDOARJO

  • May 13, 2026
  • ABDUL WAHAB

PASURUAN, SeputarTambaan – Aspal jalanan Kota Pasuruan yang mulai memanas di Rabu pagi itu tak menyurutkan langkah puluhan biksu. Mengenai jubah safron yang khas, mereka melangkah tenang meninggalkan gerbang Klenteng Tjoe Tik Kiong. Di bawah naungan langit Jawa Timur, sebuah perjalanan spiritual bertajuk Indonesia Walk For Peace (IWFP) 2026 resmi berlanjut, membawa misi besar: merajut kembali tenun toleransi di tanah air.

Ritual Thudong atau perjalanan kaki jarak jauh ini diikuti oleh puluhan biksu yang berasal dari berbagai negara di Asia Tenggara, mulai dari Thailand, Malaysia, Laos, hingga tuan rumah Indonesia. Mereka memulai perjalanan panjang sejauh 666 kilometer, bermula dari Pulau Dewata, Bali, dengan titik akhir di kemegahan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, bertepatan dengan perayaan Hari Raya Waisak 2570 BE.

Pelepasan rombongan pada Rabu (13/5/2026) pagi di kawasan Kelurahan Trajeng ini menjadi pemandangan yang kontras sekaligus menyejukkan. Kota Pasuruan yang selama ini kental dengan julukan "Kota Santri", justru menunjukkan wajah inklusivitasnya yang paling murni.

Ratusan warga dari berbagai latar belakang, tokoh lintas agama, hingga jajaran Forkopimda Kota Pasuruan memadati Jalan Lombok untuk memberikan penghormatan. Wakil Wali Kota Pasuruan, H.M. Nawawi, yang melepas langsung rombongan tersebut, menyebut momen ini sebagai pengingat akan esensi kemanusiaan.

"Perjalanan ini adalah simbol ketangguhan fisik dan kejernihan batin. Dari langkah ini kita belajar tentang kesederhanaan, ketulusan, dan tekad yang kuat demi sebuah tujuan mulia," ujar sosok yang akrab disapa Mas Nawawi tersebut.

Ia menegaskan bahwa kehadiran para biksu di Pasuruan bukan sekadar singgah secara geografis, melainkan singgah secara batiniah untuk memperkuat predikat kota sebagai daerah yang menjunjung tinggi nilai-nilai pluralisme.

Secara tradisi, Thudong bukanlah sekadar jalan kaki biasa. Ini adalah bentuk meditasi bergerak dan latihan pengendalian diri yang ketat. Para biksu hanya makan satu atau dua kali sehari, menerima sedekah dari masyarakat di sepanjang jalan (Pindapata), dan tidur di tempat-tempat ibadah atau lokasi yang disediakan oleh warga setempat.

Informasi yang dihimpun dari agenda IWFP 2026 menunjukkan bahwa pemilihan rute melewati jalur Pantura Jawa Timur bertujuan untuk menyapa masyarakat yang majemuk. Di setiap langkahnya, para biksu menebarkan senyum dan doa, yang dibalas dengan antusiasme warga yang memberikan air mineral, buah-buahan, hingga bunga sebagai bentuk dukungan moral.

Setelah melalui prosesi ramah tamah yang hangat di Klenteng Tjoe Tik Kiong, rombongan kembali memanggul tas dan payung mereka. Target berikutnya adalah Klenteng Tjong Hok Kiong di Kabupaten Sidoarjo.

Sepanjang perjalanan keluar dari batas kota, pengawalan ketat namun humanis dilakukan oleh aparat serta dibantu oleh anggota komunitas Gusdurian dan relawan lintas iman lainnya. Pemandangan ini seolah menegaskan pesan universal IWFP 2026: bahwa perdamaian dunia dan persatuan umat manusia dapat terwujud tanpa memandang suku, agama, maupun latar belakang budaya.

Kini, langkah-langkah sunyi itu terus berayun menuju Barat. Di balik keringat dan debu jalanan, terselip harapan agar pesan damai dari Pasuruan ini bergema hingga ke puncak Borobudur, dan lebih jauh lagi, ke seluruh penjuru negeri.

(Cliq,Chas/Chas)