MENENUN DAMAI DARI PASURUAN: SAAT LANGKAH KAKI PARA BIKSU MENYATUKAN KEBERAGAMAN

  • May 12, 2026
  • ABDUL WAHAB

PASURUAN, SeputarTambaan – Aspal jalanan Kota Pasuruan yang biasanya bising oleh deru kendaraan, mendadak berubah khidmat pada Selasa (12/5/2026) malam. Sebanyak 50 biksu dari empat negara—Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Laos—yang tengah melakoni ritual "Indonesia Walk for Peace 2026" (IWFP 2026), resmi menginjakkan kaki di "Kota Madinah Van Java".

Perjalanan spiritual ini bukan sekadar gerak fisik menuju Candi Borobudur untuk menyambut Hari Raya Waisak 2570 BE. Lebih dari itu, setiap tapak kaki para biksu membawa pesan universal: perdamaian dunia di tengah keberagaman.

Rombongan tiba di Klenteng Tjoe Tik Kiong sekitar pukul 18.30 WIB setelah menempuh perjalanan panjang dari Banyuwangi. Meski rona lelah tampak di wajah para biksu, senyum hangat tetap terkembang saat ratusan warga lintas agama dan komunitas lokal menyambut mereka dengan antusiasme tinggi, warga menyambut dengan taburan bunga mawar dan untaian bunga sedap malam.

 

Tidak hanya warga Buddhis, kehadiran komunitas Gusdurian Pasuruan menjadi pemandangan yang menyejukkan. Mereka berkomitmen mengawal perjalanan ini hingga sampai ke tujuan, simbol nyata dari persaudaraan lintas iman yang selama ini menjadi napas di Jawa Timur.

 

Dalam seremoni penyambutan, Walikota Pasuruan, Adi Wibowo, S.T.P., M.Si (yang akrab disapa Mas Adi), bersama jajaran Forkopimda memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada penyelenggara IWFP 2026 yang memilih Kota Pasuruan sebagai titik transit strategis.

 

"Kota Pasuruan adalah daerah yang sangat menghargai kemajemukan. Di sini, perbedaan bukan sekat, melainkan kekayaan," ujar Mas Adi dalam sambutannya.

 

Beliau juga menekankan sebuah pesan mendalam yang menyentuh hati para hadirin:

 

"Rasa kemanusiaan telah menyatukan kita semua sebagai konteks tertinggi. Perjalanan para biksu ini mengingatkan kita bahwa di atas segala perbedaan keyakinan, kita adalah saudara dalam kemanusiaan."

Berdasarkan pantauan di lapangan dan informasi yang dihimpun dari media sosial penyelenggara, para biksu menjalankan perjalanan ini dengan disiplin tinggi. Setelah beristirahat dan melakukan meditasi malam di Klenteng Tjoe Tik Kiong, rombongan dijadwalkan bertolak menuju Sidoarjo pada Rabu pagi pukul 08.30 WIB.

 

Ketua panitia lokal menyebutkan bahwa dukungan dari berbagai elemen, mulai dari kepolisian hingga relawan komunitas, memastikan para biksu dapat beristirahat dengan tenang sebelum melanjutkan misi perdamaian ini.

 

IWFP 2026 menjadi bukti bahwa Indonesia tetap menjadi rumah yang ramah bagi laku spiritual apa pun. Dari Pasuruan, pesan damai itu bergema: bahwa harmoni bisa diciptakan melalui langkah-langkah kecil yang konsisten, penuh cinta kasih, saling toleransi dan saling menghormati.

 

(Cliq, Chas/Chas)